Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 04:28 WIB
 

Mark Zuckerberg Dengar Pendapat dengan Kongres

Oleh : Didi Prambadi | Selasa, 10 April 2018 | 11:59 WIB
Mark Zuckerberg Dengar Pendapat dengan Kongres
(Foto: theverge)

INILAHCOM, Washington DC - Mark Zuckerberg mengakui bahwa pihaknya gagal melindungi data pengguna dan akun Facebook dan melindungi upaya manipulasi platformnya.

Deutsche Welle mengabarkan, hal itu diungkap Zuckerberg, CEO Facebook menjelang dengar pendapat dengan Kongres AS, Selasa dan Rabu (10-11/4/2018). Sekarang jelas bahwa kami tidak cukup banyak melindungi media sosial ini dari tindak kejahatan, tulis Mark Zuckerberg dalam testimoni yang diedarkan Komisi Energi dan Perdagangan Kongres AS. Mulai dari berita bohong, pengaruh asing terhadap pemilihan umum, ujaran kebencian, termasuk juga peranan pengembang perangkat lunak serta data pribadi, lanjut Mark Zuckerberg.

Facebook mengalami krisis privasi paling buruk sepanjang 14 tahun berkiprah di dunia maya. Sekitar 87 juta pengguna linimasa itu digunakan oleh perusahaan konsultan Cambridge Analytica untuk tujuan mencampuri urusan politik AS. Namun angka itu disanggah Cambridge Analytica seraya menyebutkan bahwa kampanye pilpres Donald Trump merupakan kliennya di masa lalu.

Untuk itu, Mark Zuckerberg menyatakan maafnya. Kami kurang mengungkapkan pandangan tanggung jawab kami. Dan ini merupakan kesalahan besar, bunyi testimoni Zuckerberg. Itu adalah kesalahan saya dan saya minta maaf. Saya yang mendirikan Facebook, lalu menjalankannya dan saya bertanggung jawab atas semua yang terjadi, lanjut Mark Zuckerberg.

Menurutnya, pihak Facebook kini dalam proses investigasi terhadap setiap aplikasi yang memiliki akses informasi dalam jumlah besar, sebelum kami menguncinya pada 2014 lalu. Kami mendeteksi adanya kegiatan yang mencurigakan, sehingga kami melakukan audit forensik. Bila kami menemukan seseorang menggunakan data secara tidak benar, maka kami akan memberangus mereka dan memberitahukan kepada siapapun yang dirugikan."

Beberapa perusahaan yang diberangus di antaranya, membekukan kegiatan AggregateIQ, AIQ. Perusahaan penambang data dari Canada ini digunakan kelompok kampanye pro-Brexit Vote Leave. Christopher Lyle, mantan karyawan Cambridge Analytica yang membocorkan kasus ini mengaku bahwa AIQ dan Cambridge Analytica adalah sama-sama perusahaan yang sangat efektif.

Komentar

Embed Widget

x