Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 22 September 2018 | 06:54 WIB

Parlemen AS Kecam Diskon Jual Senjata ke Saudi

Oleh : Didi Prambadi | Kamis, 22 Maret 2018 | 13:11 WIB

Berita Terkait

Parlemen AS Kecam Diskon Jual Senjata ke Saudi
Presiden Trump dan Pangeran Muhammad bin Salman - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Washington DC - Arab Saudi ternyata menikmati potongan harga US$3,5 miliar dari pembelian peralatan militer dari AS bernilai total US$15 miliar.

Portal Bloomberg mengabarkan Rabu (21/3/2018), potongan bernilai cukup besar itu diungkap Presiden Trump. Saat menerima kunjungan Pangeran Muhammad bin Salman di Gedung Putih, Trump menyebutkan, "Kerajaan Saudi telah melengkapi pembelian militer bernilai US$12,5 miliar dari pembelian rudal, pesawat dan kapal pengawal dari sejumlah perusahaan AS sejak kunjungannya ke Saudi, tahun lalu," kata Trump.

Di antaranya, pembelian sistem pertahanan Thaad Sistem dari Lookheed Martin Corp oleh Arab Saudi. Penjualan ini berlangsung setelah Pemerintah AS mengizinkan ekspor peralatan mililiter ke Uni Emirat Arab. Tak hanya itu. Sejak beberapa tahun sebelumnya, Pentagon juga telah menyetujui penjualan peralatan militer bernilai $ 9,2 miliar kepada sejumlah negara Timur Tengah. Termasuk penjualan senilai US$4,5 miliar pada 2016, dan US$3,5 miliar ke salah satu negara asing.

Potongan harga itu, dikecam kelompok oposisi Partai Demokrat. "Para pembayar pajak AS telah mengeluarkan dana untuk riset dan pengembangan teknologi, yang ternyata dijual murah," kata Jackie Spencer, anggota Komisi Militer di Kongres. "Negara-negara Teluk itu paling kaya di dunia. Kenapa diberi diskon," sambungnya. Sedangkan Robert Menendez, juga dari Demokrat menuntut agar "Pemerintah AS menjelaskan kenapa Arab Saudi diberi potongan sebanyak itu," katanya.

Sebuah peraturan bisnis AS menyebutkan, negara pembeli perkakas militer diwajibkan menalangi riset dan pengembangan senjata bikinan AS. Kecuali negara itu dijamin sebagai pembeli potensial di masa datang. Potongan harga juga diterapkan bagi sekutu NATO, seperti Australia, Korea Selatan dan Yordania.

Komentar

x