Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 17 Juli 2018 | 08:59 WIB
 

Profesor Politik Iran Ditangkap Usai Wawancara

Oleh : Didi Prambadi | Rabu, 14 Maret 2018 | 12:16 WIB
Profesor Politik Iran Ditangkap Usai Wawancara
Sadegh Zibakalam - (Foto: iranhumahsright)

INILAHCOM, Teheran - Sadegh Zibakalam, profesor ilmu politik di Universitas Teheran dihukum 18 bulan usai memberikan wawancara dengan harian Deutsche Welle, Jerman.

Harian Deutsche Welle, DW, mengabarkan Selasa (13/3/2018), Pemerintah Teheran menuduh "Sadegh menyebarkan kebohongan dan propaganda melawan Republik Islam, saat memberikan wawancara," tulis DW. Hal itu diutarakan ketika Sadegh tampil dalam acara wawancara dalam program DW bahasa Persia, Januari lalu.

Dalam wawancarnya itu, Sadegh merasa kecewa terhadap penanganan Pemerintah Iran terhadap aksi demonstrasi yang terjadi Desember 2017 lalu. "Jika ada referendum dalam sistem politik Iran sekarang ini, saya yakin 70 persen rakyat Iran akan menyatakan tidak setuju dengan Republik Islam," katanya. Kekecewaan itu diungkapkan Sadegh, karena puluhan ribu yang melakukan aksi protes menentang korupsi ditangkap. Sekitar 20 korban tewas dalam insiden itu dan 450 orang ditangkap.

Di bawah Artikel 500 UU kriminal Iran, aksi propaganda yang dilakukan Sadegh diancam hukuman tiga bulan hingga setahun penjara. Pengadilan Revolusioner Iran bahkan memberikan hukuman lebih berat lagi karena Sadegh Zibakalam mengulangi perbuatannya. Pada 2014 lalu, profesor politik itu dihukum 18 bulan penjara karena memberikan komentar serupa. Untuk kasus sekarang ini, Sadegh Zibakalam berniat naik banding.

Selain dikenai hukuman penjara, Sadegh Zibakalam lulusan University of Bradford, Inggris itu juga dilarang berpidato di depan umum. Selain itu, Sadegh yang menulis sejumlah buku, di antaranya How Did Become What We Are? dan An Introduction to Islamic Revolution juga dilarang memberikan wawancara pada media massa dan menggunakan internet dan linimasa.

Tags

Komentar

Embed Widget

x