Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 September 2018 | 19:58 WIB

Iran Hendak Bangun Kapal Bertenaga Nuklir

Oleh : Didi Prambadi | Jumat, 23 Februari 2018 | 11:00 WIB

Berita Terkait

Iran Hendak Bangun Kapal Bertenaga Nuklir
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Teheran - Pemerintah Iran mengungkapkan akan membangun kapal-kapal bertenaga nuklir di masa depan, walaupun hingga kini masih belum memulai program nuklirnya.

Deutsche Welle mengabarkan, niat itu diungkap Badan Energi Atom Internasional, IAEA, Kamis (22/2/2018). Niat itu diungkapkan oleh para pejabat Iran, kepada petugas pengawas nuklir PBB, yang meninjau instalasi nuklir Iran. Pusat pengayakan nuklir itu dibekukan kegiatannya, sesuai kesepakatan nuklir yang ditanda tangani Pemerintah Iran dengan Barat dan Sekutu pada 2015 lalu.

IAEA yang bermarkas di Wina, menerima surat permohonan pembangunan kapal bertenaga nuklir itu, Januari lalu. Meski tanpa rincian detil, Pemerintah Iran bersedia memberikan proposal secara detil hingga pertengahan Mei nanti. Pengakuan Iran itu, disambut dingin oleh pemerintahan Presiden Trump, yang sejak awal telah membatalkan perjanjian nuklir yang disepakati mantan Presiden AS Barrack Obama bersama Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China.

Seorang diplomat senior yang mengikuti petugas pengawas IAEA, menganggap Iran hanya mengungkapkan retorika belaka, untuk mengancam keputusan Trump. Apalagi, menurut diplomat lainnya, "Mereka hendak membangunan nuklir di bidang maritim di masa depan, yang perlu dipertanyakan lagi," kata sumber itu.

Badan PBB itu menambahkan bahwa Iran masih membatasi kegiatan pengayakan nuklir selama tiga bulan belakangan dan tidak menghalangi jalannya pemeriksaan dari PBB. Sejumlah analis yakin, Teheran masih belum mampu membangun kapal nuklir dalam waktu dekat ini. Hanya negara-negara besar yang berhasil memiliki kapal nuklir, seperti AS, Rusia dan Inggris, Prancis dan China.

Sementara itu, Wakil Menlu Iran Abbas Araqchi memperingatkan bahwa Teheran akan menghapus perjanjian nuklir dengan Barat, apabila sanksi ekonomi masih diberlakukan. "Apalagi jika bank-bank besar tetap bersikeras tidak bersedia melakukan transaksi dengan Iran, karena takut dituduh AS melanggar sanksi ekonomi," kata Abbas Araqchi.

Komentar

Embed Widget
x