Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 18:17 WIB
 

Kerangka Korban Mutilasi Kuwait Kembali ke Manila

Oleh : Didi Prambadi | Sabtu, 17 Februari 2018 | 12:11 WIB
Kerangka Korban Mutilasi Kuwait Kembali ke Manila
(Foto: rappler)

INILAHCOM, Manila - Pihak keluarga Joanna Daniella Demafelis, TKW Filipina yang menjadi korban di Kuwait, tak mampu menahan tangis saat jasad korban tiba di Bandara Thomas Aquino, Manila, Jumat (16/2/2018).

Kantor Berita Associated Press mengabarkan, ketika peti jenasah Joanna didorong ke ruang kargo Bandara Manila, saudara perempuannya langsung menghambur ke atas peti sambil menangis meraung-raung. "Saya berharap, Joanna mendapatkan keadilan," tutur Jojit Demafelis, saudara lelaki korban kepada para wartawan.

Joanna Danielle Demafelis ditemukan tewas 6 Februari lalu, di dalam lemari sebuah apartemen kosong di Kuwait City, Perempuan Filipina berusia 29 tahun itu, diduga telah tewas setahun lalu, akibat disiksa majikannya. Joanna yang berangkat ke Kuwait pada 2014 itu, bekerja di sebuah keluarga pasangan warga Suriah dan Lebanon.

Pihak kepolisian Kuwait menjelaskan pasangan keluarga itu telah kembali ke negaranya. "Kami menemukan jasad korban setelah petugas memaksa masuk apartemen, karena pasangan itu tidak membayar sewa dan harus keluar," kata petugas polisi. "Pasangan itu juga terlibat pembayaran cek kosong," tambah polisi.

Menteri Luar Negeri Filipina Alan Peter Cayetano menganggap kematian Joanna merupakan kejadian tragis. Menlu Cayetano meminta seluruh organisasi dan badan pemerintah agar lebih agresif membantu para tenaga kerja Filipina di luar negeri. "Kuwait berjanji akan melakukan segala upaya untuk mendapatkan keadilan bagi korban," kata Cayetano. "Mereka seharusnya memberi bantuan sejak dulu, saat Joanna tidak lagi mengontak keluarganya," tutur Cayetano.

Menteri luar negeri Filipina itu juga menambahkan bahwa banyak tenaga kerja Filipina masih bertahan di Kuwait, "Karena mereka tidak punya pekerjaan lain lagi bila kembali ke tanah air. Mereka bahkan tidak punya uang lagi di Filipina," sambung Cayetano.

Komentar

 
Embed Widget

x