Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 Agustus 2018 | 00:05 WIB

Kelompok Taliban Ajak AS Lakukan Perundingan Damai

Oleh : Didi Prambadi | Kamis, 15 Februari 2018 | 14:57 WIB
Kelompok Taliban Ajak AS Lakukan Perundingan Damai
(Foto: voanews)

INILAHCOM, Kabul - Kelompok Taliban di Afghanistan menerbitkan surat terbuka yang intinya berkeinginan untuk melakukan pembicaraan damai dan minta rakyat AS dan Anggota Kongres AS menekan Pemerintahan Trump untuk melakukan negosiasi.

The Guardian mengabarkan Rabu (14/2/2018), surat terbuka itu dikeluarkan oleh Zabiullah Mujahid, jurubicara kelompok Taliban. Surat berisi 2.800 kata itu menggunakan data statistis AS dan PBB, untuk menjelaskan publik AS bahwa perang ini tidak bakal dimenangkan AS. "3.546 tentara asing dan AS tewas," tulisnya.

Sebaliknya, upaya pemerintah Afghanistan untuk melakukan rekonstruksi tidak jalan, malah produksi Heroin di bawah kendali Taliban naik 87%. "Puluhan miliar dolar yang dari pembayar pajak, telah diberikan kepada para pencoleng dan pembunuh," tulis surat terbuka itu.

Tak cuma itu. Senin kemarin Taliban mengundang Senator Rand Paul ke kantor mereka di Qatar. Undangan itu disampaikan setelah AS memproyeksikan dana $ 45 miliar di Afghanistan selama 2018 ini.

Surat terbuka itu disambut dingin oleh Pemerintah AS. Jurubicara kementerian luar negeri AS menyambut baik usul perundingan damai Taliban itu. Namun, ditambahkannya yang harus dilakukan kelompok geriyawan itu agar mengakhiri kampanye aksi kekerasan. "Pernyataan Taliban tidak mengungkapkan keinginannya untuk melakukan pembicaraan damai. Malah baru-baru ini mereka melakukan serangan di Kabul," kata Juru Bicara AS.

Selanjutnya AS hanya bersedia melakukan perundingan damai dengan Taliban dengan melibatkan Pemerintah Afghanistan. Sementara itu, ada pandangan berbeda di antara para pejabat Washington. Menlu AS Rex Tillerson menyatakan AS terbuka bagi kemungkinan pembicaraan dengan kelompok moderat di Taliban. Mereka itulah nantinya yang bisa diajak bekerjasama dan menjadi bagian dari Pemerintahan Kabul.

Komentar

Embed Widget

x