Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 18:20 WIB
 

Keluarga Korban Pembunuhan Tuntut Facebook

Oleh : - | Jumat, 2 Februari 2018 | 17:11 WIB
Keluarga Korban Pembunuhan Tuntut Facebook
Robert Godwin berfoto bersama putrinya, Debbie Godwin. - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Pennsylvania -- Keluarga Robert Godwin menggugat Facebook karena dituding lalai yang mengakibatkan kematian Godwin.

Godwin, 74 tahun, menjadi korban penembakan acak saat ia pulang makan siang Paskah pada bulan April tahun lalu.

Steve Stephens, pelaku penembakan yang kemudian menembak mati dirinya sendiri, mengunggah video pembunuhan itu di Facebook, yang ditonton jutaan orang.

Facebook menjadi bulan-bulanan kritik karena rekaman itu tersedia selama berjam-jam di layanan mereka.

Setelah itu Facebook mengkaji dan memperbaiki prosedur pengunggahan mereka.

"Kami ingin semua orang merasa aman menggunakan Facebook, karenanya kami menerapkan kebijakan yang melarang (diunggahnya) ancaman langsung, serangan, ancaman serius terhadap bahaya keselamatan umum dan pribadi dan aktivitas kriminal lainnya," kata Natalie Naugle, dari Facebook.

"Kami bersimpati terhadap keluarga korban, yang mengalami peristiwa tragis dan kehilangan anggota keluarga dalam peristiwa di luar akal sehat itu," katanya dalam sebuah pernyataan.

Keluarga Godwin menuturkan bahwa tuntutan hukum itu dimaksudkan untuk menuntut pertanggungjawaban Facebook atas pembunuhan tersebut, dengan alasan mereka tidak memberikan peringatan menjelang pembunuhan tersebut.

"Gugatan hukum ini bertujuan agar Facebook memikul tanggung jawab, antara lain pada kelalaian mereka dalam mengambil langkah ketika ada ancaman kekerasan yang sudah jelas dan kredibel," katanya.

Keluarga meminta ganti rugi, dan mengatakan bahwa situs tersebut lalai bertindak terkait "ancaman kekerasan yang dilontarkan oleh tersangka".

Dalam video Facebook lainnya yang diunggah Stephens di hari pembunuhan Godwin, ia mengatakan "baru saja menembak", dan berbicara mengenai utang yang melilitnya akibat judi dan hubungan cinta yang berantakan.

Sementara dalam video lainnya ia mengatakan telah membunuh 13 orang dan akan terus membunuh.

Menyusul pembunuhan tersebut, seorang juru bicara Facebook mengatakan: "Ini kejahatan yang mengerikan dan kami tidak mengizinkan konten semacam ini ada di Facebook."

Justin Osofsky, wakil presiden operasi global Facebook beralasan bahwa pengaduan pertama tentang video tersebut muncul sekitar dua jam setelah diunggah.

Stephens diburu polisi setelah ia dikenali oleh karyawan McDonald's di Pennsylvania, yang menangani pesanannya dan menelepon nomor layanan 911.

Polisi memburunya tapi ia menembak dan membunuh dirinya sendiri "setelah tidak bisa menguasai kendaraannya," saat dikejar, dan terdesak. [bbc/lat]

Komentar

 
x