Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 05:47 WIB

Deputi FBI Mundur Akibat Tekanan Presiden Trump

Oleh : Didi Prambadi | Selasa, 30 Januari 2018 | 12:42 WIB

Berita Terkait

Deputi FBI Mundur Akibat Tekanan Presiden Trump
Andrew McCabe dan Presiden Donald Trump - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Washington DC - Andrew McCabe Deputi Direktur Biro Investigas Federal, FBI mengundurkan diri dari jabatannya, Senin (29/1/2018).

NBC News mengabarkan, sejumlah sumber mengungkapkan, langkah itu diambil McCabe setelah mendapat tekanan dari Presiden Donald Trump. Awal bulan lalu, The Washington Post mengabarkan, setelah memecat James Comey sebagai Direktur FBI, Presiden Trump memanggil McCabe ke Gedung Putih.

Dalam pertemuan itu, Trump bertanya, siapa yang dia pilih dalam Pilpres 2016 lalu. Tak jelas apa jawaban McCabe kala itu, namun Trump dikabarkan marah besar setelah tahu bahwa deputi FBI itu menyumbang dana donasi ribuan dolar bagi istrinya, untuk menjadi Senat pada 2015, dan ternyata gagal.

"Bagaimana bisa McCabe, Deputi FBI yang bertanggung jawab investigasi Hillary Clinton malah menyumbang $ 700 ribu untuk kampanye istrinya," tulis Trump dalam cuitan Twitternya Desember 2017. "Kenapa Menteri Kehakiman AG Session tidak mengganti Andrew McCabe. Dia tengah berlomba dengan waktu untuk pensiun. Tinggal 90 hari lagi deh," sambung Trump, Juli 2017.

Banyak pejabat tinggi Washington yang menanggapi mundurnya McCabe. Di antaranya Eric Swalwell, anggota Kongres Komisi Judisial dan Intelijen ini mengatakan, "Jika mundurnya McCabe bukan karena alasan pribadi, maka bakal muncul masalah," katanya. "Sebab, presiden keliatannya bernafsu untuk menggusur pejabat, agar penyelidikan campur tangan Rusia bisa dihilangkan," tutur Eric Swalwell.

Sementara itu, kabar mundurnya McCabe terjadi bersamaan dengan keputusan anggota Komisi Intelijen Kongres, yang akan membongkar sebuah dokumen rahasia. Dokumen itu berisi laporan detil mengenai penyalahgunaan praktek para petugas FBI melakukan pengamatan terhadap warga AS.

Para anggota Kongres dari Partai Republik memang ngotot agar dokumen itu dibongkar, sehingga FBI merasa malu, dan penyidikan biro investigasi itu terhadap kasus campur tangan Rusia bisa dicegah. Saling sikut terjadi antara FBI dan Gedung Putih, didukung kubu Republik.

Komentar

Embed Widget
x