Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 24 Februari 2018 | 05:15 WIB
 

Trump Tuding Palestina Tidak Hormati AS

Oleh : - | Sabtu, 27 Januari 2018 | 09:20 WIB
Trump Tuding Palestina Tidak Hormati AS
Presiden Donald Trump - (Foto: Foreignpolicy)

INILAHCOM, London -- Presiden AS Donald Trump meragukan pembicaraan perdamaian antara Israel dan Palestina akan bisa dimulai kembali. Ia menyampaikan pernyataannya itu dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

Reporter VOA Henry Ridgwell melaporkan dari London, Presiden Trump dijadwalkan akan menyampaikan pidato yang ditunggu-tunggu pada sesi penutupan konferensi itu, Jumat (26/1), atau menjelang Sabtu (27/1) WIB.

Beberapa jam setelah helikopter kepresidenan AS Marine One mendarat, Donald Trump menggelar strategi diplomasinya blak-blakan yang menjadi ciri khasnya. Ia meragukan pembicaraan perdamaian Timur Tengah akan dimulai kembali dan mengancam akan memangkas dana bantuan untuk Palestina.

"Dana itu tersedia, dan dana itu tidak akan sampai ke Palestina kecuali mereka bersedia merundingkan perdamaian. Karena, saya bisa katakan, Israel ingin berdamai, dan Palestina seharusnya juga demikian. Jika tidak, kami akan terpaksa lepas tangan," katanya.

Sebelumnya, Trump membantah apa yang menurutnya gosip palsu bahwa ia berselisih pendapat dengan PM Inggris Theresa May. Trump malah menjanjikan akan mendongkrak perdagangan setelah Inggris keluar dari Uni Eropa.

Ada kekhawatiran bahwa diplomasi Trump yang mendahulukan AS akan mengguncang sistem global yang menyokong KTT Davos.

Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan, "Saya kira semua pemimpin, dari negara kecil, menengah atau besar, perlu menyadari bahwa mereka tidak bisa mencapai apa yang mereka inginkan dengan sendirian. Dunia menghadapi banyak tantangan yang hanya bisa diatasi dengan kerjasama internasional yang erat."

Secara umum, suasana di Davos terkesan bersemangat. Namun, dalam sejumlah pertemuan tertutup, ada pembicaraan mengenai bahaya yang harus dihadapi pada masa depan. Judul laporan latar belakang mengenai KTT itu sendiri adalah "Keretakan, Kekhawatiran dan Kegagalan" sebuah cerminan dari ketegangan global yang kian berkembang.

Inderjeet Parmar, pengamat ekonomi dari City University di London, mengungkapkan, "Meskipun kemakmuran internasional, kemakmuran negara-negara, tingkat pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto telah meningkat, ketidaksetaraan distribusi menimbulkan efek politik berskala besar."

Kekayaan 500 miliader terkaya di dunia meningkat hingga seperempatnya tahun lalu, sementara pendapatan 50 persen penduduk dunia yang paling miskin tidak berubah. Para aktivis menginginkan adanya tindakan.

Direktur Eksekutif organisasi nirlaba Oxfam, Winnoe Byanyima, mengatakan, "Saya di sini ingin mengatakan kepada perusahaan-perusahaan besar, kepada politisi-politisi, bahwa ini tidak benar. Tindakan-tindakan dan kebijakan-kebijakan mereka telah menciptakan situasi ini, dan mereka bisa mengubahnya."

KTT Davos bersiap menghadapi sesi penutupan yang dramatis Jumat sore, atau Sabtu WIB. [voa/lat]

Komentar

 
Embed Widget

x