Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 Agustus 2018 | 02:58 WIB

Sengketa Telepon Presiden, AS-Turki Tegang

Oleh : - | Jumat, 26 Januari 2018 | 12:32 WIB
Sengketa Telepon Presiden, AS-Turki Tegang
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Donald Trump - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Istanbul -- Hubungan AS-Turki kembali tegang. Turki membantah versi percakapan telepon antara Presiden AS dan Turki, yang ditujukan untuk meredakan ketegangan terkait intervensi pasukan Turki di Suriah.

Turki menolak laporan AS mengenai apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Turki menyangkal ada telepon dari Trump untuk meredakan operasi militer terhadap milisi Kurdi Suriah YPG di daerah kantong Afrin, Suriah.

AS mendukung milisi YPG dalam perang melawan ISIS. Turki menganggap YPG sebagai organisasi teroris yang terkait dengan pemberontakan Kurdi di Turki.

Hari Kamis (25/1), Perdana Menteri Turki Binali Yildirim melancarkan serangan verbal kepada AS.

"Negara yang kita sebut sekutu NATO berkomplot dengan organisasi-organisasi terror," kata Yildirim.

Yildirim menyebutnya situasi yang sangat serius dan menyakitkan dan menuduh AS bekerja sama dengan organisasi teroris. Ia mengatakan Turki tidak akan pernah menerima hal ini.

Komentar terbaru perdana menteri itu memicu perkiraan bahwa Turki akan mewujudkan ancamannya untuk memperluas operasi melawan milisi Kurdi Suriah ke Manbij. Pasukan AS dikerahkan di kota Suriah itu bersama milisi YPG.

Kurangnya kepercayaan Ankara terhadap AS kini menjadi kendala utama untuk menyelesaikan krisis Suriah.

Hari Rabu, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengesampingkan proposal yang menurutnya dibuat oleh Menlu AS, Rex Tillerson untuk menciptakan zona keamanan selebar 30 kilometer di Suriah untuk melindungi perbatasan selatan Turki. Cavusoglu mengatakan tidak akan bisa membuat kesepakatan sampai kepercayaan pulih.

Turki juga berselisih dengan AS mengenai sejumlah isu selain masalah Suriah.

Turki menyerukan ekstradisi Fethullah Gulen, ulama Turki yang tinggal di AS yang dituduh Turki terlibat dalam kudeta gagal tahun 2016. Ulama yang mengasingkan diri di negara bagian Pennsylvania itu membantah tuduhan tersebut.

Sementara itu, pihak berwenang AS dilaporkan sedang mempertimbangkan denda besar terhadap bank milik Turki, Halkbank terkait sanksi-sanksi yang dikenakan pada Iran, menyusul vonis di New York terhadap salah seorang dari pimpinan seniornya. Erdogan menuduh vonis terhadap pimpinan bank itu merupakan upaya terbaru FBI dan CIA untuk menggulingkannya. [voa/lat]

Tags

Komentar

Embed Widget

x