Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 19:26 WIB

Dewan Sentral Palestina Bertemu Bahas Jerusalem

Oleh : Didi Prambadi | Minggu, 14 Januari 2018 | 13:06 WIB

Berita Terkait

Dewan Sentral Palestina Bertemu Bahas Jerusalem
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jerusalem - Delapan anggota Dewan Sentral Palestina, PCC akan bertemu untuk meninjau kembali dan menentukan perjuangan bangsa Palestina di Ramallah, ibukota sementara Palestina, Ahad (14/1/2018).

Kantor berita Reuters mengabarkan, PCC yang befungsi sebagai parlemen Palestina di pengasingan tersebut akan bertemu membahas tentang penetapan Jerusalem sebagai ibukota Israel oleh Trump. PCC yang berfungsi pula sebagai Komite Eksekutif Palestina diperkirakan bakal mengambil keputusan dan sikap tegas yang tegas.

Sumber-sumber Arab News mengungkapkan, dalam keputusan itu, Dewan PCC akan memproklamasikan Palestina sebagai negara di bawah penjajahan Israel. Palestina juga akan menuntut Israel lewat Pengadilan Kriminal Internasional, dan menunda pengakuan Israel sebagai sebuah negara. Dewan PCC juga akan mengimbau warga Palestina untuk melakukan perlawanan damai dan meminta kepada negara-negara Eropa dan lain untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

Anees Sweidan, direktur urusan hubungan luar PLO mengatakan pertemuan PCC kali ini menghadapi pilihan sulit. "Keputusan yang sulit harus dikeluarkan sehubungan dengan pengakuan AS atas kota Jerusalem," katanya. Anees Sweidan tak lupa mengingatkan bahwa PCC akan meninjau kembali Perjanjian Oslo, terutama soal hubungan Palestina-Israel.

"Jelas kami akan melakukan peninjauan total atas Perjanjian Oslo. Israel tidak lagi dianggap sebagai rekanan dalam kesepakatan damai dewasa ini. Kami tidak bisa selalu menyembunyikan menyembunyikan kepala di dalam pasir seperti selama ini. Artinya, kami harus meninjau kembali kesepakatan keamanan dan ekonomi dengan Israel," kata Anees Sweidan.

Sementara itu, Tayseer Khaled, anggota komisi eksekutif PLO menjelaskan bahwa pertemuan Ahad di Ramallah nanti, mau tidak mau, harus menghormati resolusi yang disepakati pada Desember 2015. Dalam kesepakatan itu, "PLO memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Perjanjian Oslo dan perjanjian keamanan dengan Israel. Sayangnya, keputusan itu tidak terlaksana kala itu," kata Tayseer Khaled.

Para pemimpin Palestina tampaknya terjebak di antara masalah intern mereka sendiri. Satu pihak mereka harus menunjukkan persatuan dan ketahanan sebagai bangsa Palestina, namun di lain pihak, mereka saling berbeda pendapat. Karena pilihan PCC akan berdampak besar terhadap perjuangan bangsa Palestina, maka keputusan radikal akan ditunda untuk mendengar pertimbangan badan tertinggi PLO, Dewan Nasional Palestina.

Komentar

Embed Widget
x