Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Mei 2018 | 05:47 WIB
 

Pendemo di Tunisia Mulai Jarah Barang

Oleh : - | Kamis, 11 Januari 2018 | 17:40 WIB
Pendemo di Tunisia Mulai Jarah Barang
Demonstrasi di Tunisia - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Tunis -- Demonstrasi di beberapa kota di Tunisia yang semula memprotes kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, pada Rabu (10/01) malam mulai menjarah barang-barang di supermarket Carrefourdi pinggiran Ibu Kota Tunis.

Sebanyak 200 orang pengunjukrasa ditangkap di beberapa Kota Tunis karena dituduh melakukan kekerasan, dalam demonstrasi yang sudah memasuki hari ketiga.

Kementerian Luar Negeri Tunisia menyebutkan puluhan aparat polisi terluka dalam bentrokan dengan para pendemo.

Dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya yang dilanda Arab Spring, Tunisia mendapatkan pujian karena relatif mulus menjalankan transisi demokratis semenjak diguncang gerakan protes anti pemerintah pada 2011 yang kemudian memicu Arab Spring.

Arab Springdimulai pada pertengahan Desember 2010 di Tunisia dan menyebar ke beberapa negara lain di kawasan pada awal 2011, yang ditandai dengan aksi massa, baik yang berjalan damai maupun yang diwarnai kekerasan.

Tetapi tujuh tahun kemudian mulai muncul kemarahan masyarakat Tunisia yang mengeluhkan kenaikan harga barang-barang pokok.

"Ini protes terhadap harga barang-barang, termasuk harga obat. Semua naik, tapi gaji tidak naik. Ini saat yang tepat memprotes kenaikan harga-harga itu," kata seorang pengunjuk rasa, seperti dilaporkan kantor berita AFP, yang dikutip dari BBC, Kamis (11/01).

Semula unjuk rasa di Tunisia ini berlangsung damai, tetapi memasuki hari kedua mulai diwarnai kekerasan yang menjurus pada kerusuhan di beberapa kota.

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri, Khalifa Chibani mengatakan kepada radio setempat bahwa setidaknya 49 anggota polisi yang sedang menjalankan tugasnya terluka akibat terlibat bentrokan dengan para pendemo.

Sejumlah laporan menyebutkan demontrasi di kota Tunis - ibu kota Tunisia - berubah menjadi penjarahan barang-barang bahan pokok di supermarket Carrefour di pinggiran kota itu.

Unjuk rasa sempat redah pada Rabu siang, tetapi laporan saksi mata menyebutkan demonstrasi kembali digelar pada malam harinya.

Di kota Tebourba, yang terletak di sebelah barat ibu kota Tunis, seorang pria yang berusia 40-an meninggal dalam kerusuhan pada Senin malam.

Perdana Menteri Tunisia, Youssef Chahed mengutuk tindakan "perusuh" dalam unjuk rasa yang disebutnya didalangi partai-partai Kiri untuk menggerogoti dan melemahkan pemerintah.

Bentrokan antara aparat kepolisian dan pengunjukrasa pecah pada Rabu malam di kota Siliana, di wilayah utara negara itu.

Seperti dilaporkan kantor berita AFP, para pengunjukrasa melemparkan batu dan bom molotov ke arah aparat kepolisian yang kemudian dibalas dengan tembakan gas air mata.

Pemandangan serupa juga terlihat di kota Kasserine, salah-satu wilayah termiskin di Tunisia, yang diwarnai pembakaran ban untuk memblokir jalan serta aksi lempar batu ke arah polisi.

Aparat militer telah dikerahkan untuk menjaga bangunan bank, kantor pos dan gedung pemerintahan lainnya di kota-kota besar, kata kementerian pertahanan.

Pada Selasa malam, ratusan anak muda turun ke jalan-jalan di kota Tebourba saat mengubur seseorang yang tewas dalam unjuk rasa.

Polisi bersikeras membantah tuduhan bahwa pria itu tewas akibat tindakan kekerasan mereka. Menteri Kesehatan Imed Hammami mengatakan hasil otopsi terhadap jenazah pria itu akan diumumkan pada Kamis.

Kerusuhan juga dilaporkan terjadi di kawasan yang banyak ditempati para pekerja kasar di Djebel Lahmer dan Zahrouni di pinggiran kota Tunis. Ini juga terjadi di kota-kota seperti Gafsa dan Kasserine serta Jedaida.

Di pusat kota Sidi Bouzid, pusat unjuk rasa yang memicu gerakan Arab Spring 2011, para anak muda memblokir jalan dan melempar batu, yang dibalas polisi dengan menembakkan gas air mata. [bbc/lat]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x