Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 20:40 WIB

Parlemen AS Telurkan Reformasi Pajak Kelompok Kaya

Oleh : Didi Prambadi | Kamis, 21 Desember 2017 | 13:55 WIB
Parlemen AS Telurkan Reformasi Pajak Kelompok Kaya
Presiden Donald Trump - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Washington DC - Presiden Donald Trump dan anggota parlemen Partai Republik merayakan lolosnya RUU reformasi pajak yang dianggap sebagai prestasi terbesar tahun 2017.

Seperti dilaporkan CNN, Presiden Trump mengungkapkan kebanggaannya Rabu (20/12/2017). "Sederhana saja. Ketika kalian tidak mengharap bakal lolos, kami malah membuat Amerika menjadi besar kembali," kata Trump. Sejumlah anggota Kongres Republik yang bekerja keras menggolkan RUU itu mengelilinginya, bertepuk tangan.

RUU reformasi pajak itu, merupakan perubahan sistem pajak AS sejak 30 tahun terakhir. Meski begitu, reformasi pajak yang tak didukung Kubu Demokrat itu, tidak didukung 55% responden poll pendapat CNN. "Hanya 33% saja yang mendukung proposal Partai Republik, yang diharapkan bakal mengubah sistem perpajakan AS," tulis CNN. Mengomentari hal ini, Senator Mitch McConnell dari Republik berjanji akan memperkenalkannya kepada warga AS. "Kalau tidak bisa, ya kita cari jalan lain," kata pemimpin Mayoritas Senat AS itu.

Maklum, banyak yang menilai, sistem pajak baru itu lebih menguntungkan para pengusaha kaya, daripada bermanfaat bagi wong cilik. "Sebab, warga yang berpenghasilan $ 70 ribu ke atas saja yang menikmati keringanan," tutur Myrna Pinkett, pendukung Demokrat menjelaskan. "Sedangkan kami yang pendapatannya sekitar $ 30 ribu per tahun, tidak mendapatkan keringanan apa-apa," sanggah Myrna, perempuan kulit hitam berusia 72 tahun itu.

Lagipula, keringanan pajak bakal mengakibatkan defisit anggaran belanja AS tahun 2018 makin membengkak $ 1 triliun. Hal itu terjadi, karena potongan pajak yang baru saja disahkan akan memangkas pendapatan sebesar $ 1,5 trilyun. "Apakah warga AS dan para pejabat AS menyadari hal itu," tulis Majalah Fortune. Berarti pula, kesenjangan kaum kaya dan miskin makin melebar.

Memang, Pemerintah Trump berjanji akan menekan para pengusaha agar membantu warga miskin, bila ingin mendapatkan potongan pajak. "Tapi bantuan kaum miskin itu hanya bersifat sementara saja. Sedangkan potongan pajak bagi kaum kaya itu sifatnya permanen," tutur Myrna Pinkett kesal.

Lalu kenapa RUU itu bisa diloloskan di Parlemen? "Selain karena didukung para orang kaya, parlemen kini dikuasai mayoritas Partai Republik, yang memang pro pengusaha kaya," sambungnya.

Tags

Komentar

Embed Widget

x