Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Juli 2018 | 09:17 WIB
 

Jumlah Wartawan yang Tewas Menurun Tahun Ini

Oleh : Didi Prambadi | Rabu, 20 Desember 2017 | 16:02 WIB
Jumlah Wartawan yang Tewas Menurun Tahun Ini
(Foto: novinite)

INILAHCOM, Paris - Badan Internasional Reporters Without Borders mencatat 65 wartawan tewas selama tahun 2017, suatu jumlah paling sedikit selama 14 tahun terakhir.

Seperti dilaporkan Kantor berita Associated Press Selasa (19/12/2017), 60 persen di antaranya menjadi korban pembunuhan. "26 orang wartawan di antaranya tewas saat menjalankan tugas. Atau ikut menjadi korban dalam situasi gawat, seperti saat terjadi serangan udara, pengeboman atau korban bom bunuh diri," bunyi penjelasan Reporters without Borders, RSF. Sedangkan 39 sisanya menjadi korban pembunuhan, atau menjadi sasaran pembunuhan akibat laporannya yang mengancam kondisi politik, ekonomi atau kasus kriminal lainnya.

Secara keseluruhan, menurut RSF, menurunnya jumlah korban, karena tidak banyak wartawan yang bersedia meliput pusat-pusat konflik yang dianggap sangat berbahaya. Seperti Suriah, Yaman dan Libya. "Selain itu, karena munculnya kesadaran akan keselamatan masing-masing wartawan," bunyi laporan tersebut.

Data RSF menunjukkan pula banyak negara yang bukan kawasan perang, namun tetap dinilai rawan dan berbahaya bagi wartawan. 46% di antara korban tahun 2017 terjadi di kawasan non-perang. Dibandingkan 30 persen di tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan peningkatan. Suriah menjadi negara paling berbahaya di dunia. 12 orang terbunuh di Suriah, atau sedikit melebihi Mexico, negara yang juga dikenal sangat rawan, sehingga banyak wartawan yang melarikan diri atau melepaskan profesinya.

Selain Suriah dan Mexico, negara lain yang dianggap rawan adalah Afghanistan, dengan 9 korban wartawan selama 2017. Disusul Irak dengan 8 wartawan, kemudian Filipina, negara yang paling rawan di Asia, dengan 4 orang wartawan jadi korban. Sementara itu, jumlah wartawati yang menjadi korban tercatat 10 orang, atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2016. "Banyak wartawati menjadi korban karena menjadi korban akibat investigasi yang dilakukannya. Mereka kebanyakan menulis dengan gaya tulisan yang cukup keras dan menohok," bunyi penjelasan RSF.

RSF juga menambahkan, kini tercatat 54 wartawan yang ditahan oleh kelompok-kelompok seperti Negara Islam, ISIS atau gerilyawan Houthi di Yaman. "Hampir sepertiga di antaranya adalah wartawan lokal yang bergaji kecil yang terlalu berani mengambil risiko," tulis RSF. Sementara itu, seluruh wartawan asing diculik di Suriah, meski tak jelas lokasinya kini di mana.

Komentar

x