Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 18 Desember 2017 | 06:25 WIB

Jumat Ini "Hari Kemarahan" Bangsa Palestina

Oleh : - | Jumat, 8 Desember 2017 | 08:28 WIB
Jumat Ini
Demonstran Palestina - (Foto: tgm)
facebook twitter

INILAHCOM, Kota Gaza -- Pemimpin Hamas Palestina, Ismail Haniyeh menyerukan bangsa Palestina, umat muslim, dan dunia Arab untuk menjadikan hari Jumat (08/12/2017) ini sebagai "Hari Kemarahan".

Seruan itu disampaikan Haniyeh menanggapi keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan segera memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Presiden Trump hari Rabu (06/12/2017) waktu setempat, atau Kamis (07/12/2017) dinihari WIB secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Unjuk rasa besar-besaran diperkirakan akan berlangsung di berbagai tempat di Palestina dan sejumlah wilayah yang dikuasai tentara Israel selesai solat Jumat siang nanti.

Kemarin sore, warga Palestina mulai berunjuk rasa di jalanan Kota Bethlehem, Ramallah dan Yerusalem. Warga Palestina yang memprotes keputusan Trump tersebut lansung disambut tentara Israel dengan menembakan peluru karet dan gas air mata. Tiga warga Palestina dilaporkan terluka dalam bentrokan itu.

Sementara itu, Jamal Mahisan dari Komite Pusat Fatah seperti dikutip Haaretz mengatakan, anggotanya siap menggelar demonstrasi di seluruh wilayah Tepi Barat dan dipastikan didukung Pemerintah Palestina.

"Keputusan Trump mendorong warga Palestina turun ke jalan dengan amarah," tegas Jamal.

Sebaliknya, aparat keamanan Israel bersiaga penuh menghadapi kemungkinan munculnya unjuk rasa di pusat kota Tel Aviv, yang berdekatan dengan Kedubes AS.

Selain itu, militer dan ribuan polisi Israel dikerahkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk di seluruh penjuru Tel Aviv.

Isu pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel menjadi sorotan luas karena selama ini, Israel dan Palestina saling klaim Yerusalem sebagai ibu kota masing-masing negara.

Israel merebut Yerusalem saat perang Timur Tengah pada 1967. Namun masyarakat internasional tak mengakuinya.

Sejak Trump menjadi Presiden AS rencana pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel seringkali disampaikan. Juni lalu dia sempat menangguhkan dan Desember ini adalah batas waktu baginya untuk memutuskan.

UU Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem diteken tahun 1995. Namun semua Presiden AS diberikan hak untuk menangguhkan setiap enam bulan sekali. Semua Presiden AS sebelumnya tidak berani menandatangani pemindahan tersebut. Pasalnya, isu ini sangat rawan yang bisa menyulut ketegangan baru di Timur Tengah. [lat]

Komentar

 
Embed Widget

x