Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 18 Desember 2017 | 06:26 WIB

Trump Bagai Burung Beo

Oleh : - | Kamis, 7 Desember 2017 | 06:12 WIB
Trump Bagai Burung Beo
(Foto: gettyimages)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -- Sejumlah pengamat politik internasional menganggap Presiden AS Donald Trump bagai "burung beo" yang hanya mau mengikuti ucapan PM Israel Benyamin Netanyahu.

"Dia hanya mau mengikuti apa yang diucapkan sekutunya (Netanyahu) saja," kata Abdeel Karem, pengamat dari Mesir.

Bahkan, keputusan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dikecam banyak pemimpin dunia, termasuk sekutu AS sendiri, seperti Perancis, Inggris, Turki, dan Jerman.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron mengatakan, keputusan Trump itu tidak bisa diterima oleh negaranya karena melanggar hukum internasional dan seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB.

Hal sama disampaikan PM Inggris Theresa May. "Kami tidak setuju dengan keputusan AS sebelum ada kesepakatan akhir," kata May.

Sejumlah negara Timur Tengah juga mengecam keputusan Trump ini karena menurut mereka dapat mengancam stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan,status akhir Yerusalem hanya dapat tercapai setelah perundingan damai antara Israel dan Palestina mencapai mufakat.

"Saya selalu menentang segala upaya unilateral yang dapat melemahkan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina," tegasnya.

Presiden Trump hari Rabu (06/12/2017) atau Kamis (07/12/2017) dinihari WIB secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

"Saya sudah memutuskan bahwa ini waktunya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel," ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih.

Trump mengatakan, presiden-presiden AS sebelumnya hanya menjadikan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota sebagai janji kampanye belaka. "Hari ini saya mewujudkannya," ucap Trump.

Isu pemindahan kedubes AS ini menjadi sorotan luas karena selama ini, Israel dan Palestina saling klaim Yerusalem sebagai ibu kota masing-masing negara.

Israel merebut Yerusalem saat perang Timur Tengah pada 1967. Namun masyarakat internasional tak mengakuinya.

Sejak Trump menjadi Presiden AS rencana pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem seringkali disampaikan. Juni lalu dia sempat menangguhkan pemindahan dan Desember ini adalah batas waktu baginya untuk memutuskan. Namun Trump juga bisa menangguhkan kembali untuk enam bulan ke depan.

UU Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem diteken tahun 1995. Namun semua Presiden AS diberikan hak untuk menangguhkan setiap enam bulan sekali. Semua Presiden AS sebelumnya tidak berani menandatangani pemindahan tersebut. Pasalnya, isu ini sangat rawan yang bisa menyulut ketegangan baru di Timur Tengah. [lat]

Komentar

 
Embed Widget

x