Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 00:39 WIB

Trump: Hukum Mati Pelaku Serangan Teror New York

Oleh : - | Jumat, 3 November 2017 | 09:45 WIB
Trump: Hukum Mati Pelaku Serangan Teror New York
(ist)
facebook twitter

INILAHCOM, New York - Presiden AS Donald Trump meminta agar pelaku serangan teror di New York yang menewaskan delapan orang dihukum mati. Dia juga menyebut pelaku yang berasal dari Uzbekistan itu adalah 'teroris'.

Tersangka pelaku penyerangan bernama Sayfullo Saipov, 29 tahun. Dia mengaku kepada penyidik bahwa dirinya terinspirasi oleh video ISIS dan sudah merencanakan serangan sejak setahun silam.

Saipov mengaku apa yang dia lakukan adalah perbuatan mulia, dia pun sempat meminta izin untuk mengibarkan bendera ISIS di kamar rumah sakit di mana dia dirawat setelah dilumpuhkan polisi dengan timah panas.

"Teroris di Kota New York senang karena dia meminta menggantungkan bendera ISIS di kamar rumah sakitnya, dia menewaskan delapan orang, membuat 12 orang terluka parah. HARUS DIHUKUM MATI!" kata Trump di Twitter.

Trump juga menyatakan akan mengirimkan Saipov ke penjara militer Teluk Guantanamo di Kuba. Belakangan dia menyatakan langkah itu terlalu rumit.

"Akan senang mengirimkan teroris NYC (New York) ke Guantanamo namun secara statistik proses semacam itu membutuhkan waktu lama dalam melewati sistem federal," cuit Trump lagi di Twitter.

Dia menambahkan, "Adalah juga pantas membuat dia tetap di dalam negeri karena kejahatan mengerikan yang dia lakukan. Mesti gerak cepat. HUKUMAN MATI!"

Saipov didakwa dengan satu tuduhan bahwa ia memberikan dukungan barang dan sumber daya kepada kelompok teroris asing, khususnya pada ISIS, serta satu tuduhan kekerasan dan penghancuran kendaraan, yang menyebabkan kematian delapan orang.

Jaksa Manhattan Joon Kim mengatakan, tuduhan pertama membawa hukuman maksimal seumur hidup di penjara, sementara yang kedua akan membuat Saipov memenuhi syarat untuk hukuman mati jika terbukti bersalah, dan jika pemerintah memilih untuk melakukan hukuman mati.

Tuduhan tambahan atau berbeda bisa diajukan kemudian dalam dakwaan di pengadilan, menurut Kim.

Saipov mengaku kepada pihak berwenang bahwa dia melakukan percobaan dengan sebuah mobil pikap sewaan pada 22 Oktober untuk berlatih membelokkan kendaraan tersebut dan 'menyatakan bahwa dia merasa baik tentang apa yang telah dia lakukan' setelah serangan tersebut, menurut pengaduan.

Dokumen tuduhan 10 halaman tersebut mengatakan Saipov melepaskan haknya untuk tetap diam dan menghindari tuduhan bunuh diri, karena menyetujui untuk berbicara dengan penyidik tanpa seorang pengacara yang hadir dari kasurnya di Bellevue Hospital Center, Manhattan.

Pengaduan tersebut mengatakan bahwa Saipov telah meminta izin untuk menampilkan bendera kelompok militan ISIS di kamarnya di rumah sakit.

Dikatakan bahwa dia sangat termotivasi dengan melihat sebuah video di mana Abu Bakr al-Baghdadi, yang memimpin kegiatan ISIS untuk merebut wilayah karena kekhalifahan yang diproklamirkan di Irak dan Suriah, mendorong Muslim di AS dan negara lainnya untuk mendukung kelompok tersebut.

Penyidik menemukan ribuan gambar dan video propaganda terkait ISIS di ponsel milik Saipov, termasuk cuplikan video menunjukkan bahwa tahanan ISIS dipenggal, ditabrak oleh tank dan ditembak wajahnya, kata pengaduan tersebut.

Komentar

 
x