Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 05:41 WIB

Pemimpin Iran Mengecam Keras Pernyataan Trump

Oleh : - | Jumat, 22 September 2017 | 11:33 WIB
Pemimpin Iran Mengecam Keras Pernyataan Trump
Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei. - (huffingtonpost)
facebook twitter

INILAHCOM, Teheran - Para pemimpin Iran merespons keras pernyataan anti-Iran yang baru-baru ini disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump. Mereka mengatakan bahwa kata-kata permusuhan semacam itu tidak akan mengintimidasi Teheran.

Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei mencela pidato 'bodoh' Trump di Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa lalu (19/9/2017), yang menuduh Teheran 'merusak kestabilan' Timur Tengah dan 'mendukung teror'.

"Pidato bodoh, sangat buruk dan mengerikan Presiden AS, dengan bahasa cowboy dan gaya gangster-nya penuh dengan kebohongan nyata, berpangkal dari kekecewaan serta kemarahan mereka," kata Khamenei dalam pertemuan dengan anggota Majelis Ahli Iran.

Trump juga menyebut kesepakatan nuklir Iran yang dicapai selama pemerintahan Presiden Barack Obama pada 2015 'memalukan' bagi AS, mengindikasikan ia mungkin tidak akan mengesahkan kembali kesepakatan tersebut saat tenggatnya, pertengahan Oktober.

Pidato bermusuhan Trump terhadap Iran di PBB tidak membawa kebanggaan apa pun bagi AS, kata Khamenei sebagaimana diberitakan Xinhua.

"Para elite AS mestinya malu memiliki presiden semacam itu," tambah Khamenei.

Kemarahan Washington juga berakar dari kegagalannya memajukan agendanya di Asia Barat, tempat Iran memainkan peran sukses, bermartabat dan berpengaruh, katanya.

Sehari sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani menepis pidato Trump dan mengecapnya 'penuh kebodohan dan kedengkian'.

"Retorika (Trump) terhadap Iran penuh kebodohan dan kedengkian, sarat dengan informasi palsu dan tuduhan tanpa dasar," kata Rouhani saat berpidato di Sidang Ke-72 Sidang Majelis Umum PBB pada Rabu (20/9/2017).

Rouhani juga kembali menegaskan dukungan Iran bagi kesepakatan nuklir, yang secara resmi dikenal dengan nama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Kesepakatan itu adalah hasil dari dua tahun perundingan banyak pihak secara intensif, dan dipuji banyak pihak daalam masyarakat internasional serta disahkan oleh Dewan Keamanan PBB sebagai bagian dari Resolusi 2231, kata Rouhani.

"JCPOA bukan milik satu atau dua negara. Itu dokumen DK PBB, yang menjadi milik seluruh masyarakat internasional," kata Rouhani, menambahkan Iran akan menanggapi setiap pelanggaran JCPOA.

Ia mengesampingkan setiap pembicaraan dengan AS mengenai peninjauan kembali kesepakatan nuklir 2015, dan mengatakan Teheran memiliki 'bermacam pilihan' jika Washington menarik diri.

"Iran tak pernah berusaha, sekarang pun tidak berusaha dan tidak akan pernah berusaha memiliki senjata nuklir," kata Rouhani seperti dilansir kantor berita resmi Iran, IRNA.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif juga mengecam pernyataan bermusuhan Trump terhadap Iran di Sidang Majelis Umum PBB sebagai aksi politik 'murahan', menurut harian Financial Tribune pada Kamis (21/9/2017).

"Pernyataannya, terutama saat ia menyebut negara besar Iran, murahan, retorika kosong dan tak berharga untuk ditanggapi," kata Zarif sebagaimana dikutip harian itu.

Menteri Luar Negeri Iran tersebut juga mengesampingkan dimulainya kembali perundingan mengenai kesepakatan nuklir Iran.

Iran dan enam negara besar dunia --yaitu AS, Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia-- mencapai JCPOA pada Juli 2015. Berdasarkan kesepakatan itu, Iran harus membekukan program senjata nuklirnya dengan pertukaran pelonggaran sanksi AS.

Kesepakatan tersebut menetapkan batas bagi kegiatan nuklir Iran dan mengizinkan pemeriksaan rutin atas semua instalasi di dalam wilayah Iran.

Sebagai imbalannya, AS dan Uni Eropa telah mencabut sanksi nuklir mereka terhadap Iran.

Komentar

 
x