Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 15:48 WIB

Bagaimana Orang Myanmar Memandang Warga Rohingya?

Oleh : - | Selasa, 12 September 2017 | 08:15 WIB
Bagaimana Orang Myanmar Memandang Warga Rohingya?
Sekelompok pengungsi Rohingya melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh. - (AFP)
facebook twitter

INILAHCOM, Yangon - Muncul kecaman dari seluruh dunia atas perlakuan Myanmar terhadap minoritas Rohingya, namun di Kota Yangon pandangannya sangat berbeda, seperti dilaporkan BBC.

Jika Anda berbicara dengan siapa pun di jalanan Yangon --kota terbesar di Myanmar yang sebelumnya merupakan ibu kota negara itu sebelum dipindahkan ke Naypyidaw-- mengenai apa yang terjadi di Negara Bagian Rakhine dan Anda tidak akan mendengar kata 'Rohingya'.

Mayoritas warga Yangon menyebut kelompok minoritas itu sebagai 'orang Bengali', merefleksikan sebuah persepsi umum bahwa anggota komunitas Rohingya adalah orang asing, imigran dari Bangladesh, dengan budaya dan bahasa yang berbeda.

Baca juga: Eksodus Rohingya ke Bangladesh Capai 313.000 Orang

Apa yang dilihat di mata internasional sebagai isu HAM dipandang di Myanmar sebagai suatu kedaulatan nasional, dan muncul dukungan luas untuk operasi militer di utara Rakhine.

Koran-koran membawa kepentingan pemerintah, yaitu membawa sikap bahwa Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan (Arakan Rohingya Salvation Army/ ARSA) menyerang pasukan keamanan Myanmar pada 25 Agustus 2017.

Sebagai respons, pasukan keamanan pemerintah yang juga dikenal sebagai Tatmadaw, meluncurkan operasi militer di Maungdaw, wilayah yang tercabik oleh konflik di Rakhine.

'Permusuhan panjang'

Kebanyakan orang Myanmar memandang peliputan media internasional berpihak, terlalu condong ke Rohingya, dan tidak cukup meliput penderitaan orang non-Rohingya di Rakhine yang melarikan diri dari kekerasan di desa mereka.

Akses media di daerah yang terdampak di Rakhine sangat terbatas, jurnalis asing tak bisa datang ke sana dengan bebas dan karenanya tak bisa memverifikasi kisah-kisah mereka.

Baca juga: Krisis Rohingya Akan Dibahas Para Menlu ASEAN

Media lokal fokus pada 'serangan teroris' dan pada evakuasi orang non-Rohingya yang juga tersingkir akibat konflik.

Suatu berita utama di Myawaddy Daily, berbunyi: 'Teroris Bengali ekstremis ARSA akan menyerang kota-kota besar'.

Yang lainnya, di situs berita Eleven, juga serupa: 'Ekstremis ARSA teroris Bengali menyerang pasukan keamanan di kota kecil Maungdaw'.

Laporan-laporan menyebutkan bahwa kelompok militanlah yang membakar desa-desa, bukan tentara, dan tidak disebutkan mengenai banyaknya pencari suaka Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.

Penggunaan kata 'teroris' dipaksakan oleh Komite Informasi Myanmar, yang memperingatan media agar mereka patuh.

Berita dan gambar-gambar yang menyesatkan atau bohong di media sosial hanya membuat perpecahan lebih dalam lagi.

Permusuhan terhadap kaum Rohingya bukanlah hal baru di Myanmar, namun lahir dari prasangka yang sudah lama terhadap kelompok minoritas itu, yang tidak dianggap sebagai warga Myanmar.

Kelompok Rohingya, yang bahasanya begitu berbeda dengan bahasa lain di negara bagian Rakhine, tidak dianggap salah satu dari 135 kelompok etnis resmi di Myanmar.

Kelompok nasionalis menghembus-hembuskan desas-desus bahwa Muslim Rohingya adalah ancaman, antara lain dengan karena pria Muslim berhak memiliki empat istri dan banyak anak.

Banyak yang berada di Rakhine takut mereka akan mengambil alih lahan mereka suatu hari karena populasi mereka terus bertambah.

Sikap bermusuhan dengan cepat terlihat saat kita berbicara dengan warga biasa.

"Mereka tidak berpendidikan dan tidak memiliki pekerjaan. Mereka bikin banyak anak," seorang perempuan berusia 30-an tahun mengatakan hal itu kepada BBC di jalanan Kota Yangon.

"Jika tetanggamu punya banyak anak dan membuat keributan di sebelah, akankah kamu menyukainya?" imbuhnya.

"Saya kira orang-orang itu bermasalah. Mereka jelek. Saya tidak suka mereka," kata perempuan lain, seorang pekerja rumah tangga.

Namun dia menambahkan bahwa, "Kita tidak dapat bertepuk hanya dengan satu telapak tangan," yang berarti dia sadar bahwa ada dua sisi dari sebuah cerita.

Tentu saja masih ada sebagian yang simpati dengan keadaan Rohingya, meski mereka dianggap kurang vokal.

"Saya kira banyak Muslim Bengali yang terbunuh," kata seorang supir taksi.

"Saya kira banyak yang dibunuh pasukan pemerintah karena sebagian lokasi mereka terisolasi. Saya pikir PBB seharusnya dilibatkan," sambungnya.

Komentar

 
x