Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 22 November 2017 | 06:08 WIB

WHO: Kolera Renggut 2048 Orang di Yaman

Oleh : Binar MP | Kamis, 7 September 2017 | 17:52 WIB
WHO: Kolera Renggut 2048 Orang di Yaman
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Sanaa - Kolera di Yaman, yang dicabik perang, telah menewaskan 2.048 orang sejak wabah tersebut menyebar pada April, kata media setempat dengan mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (6/9/2017).

Sebanyak 612.009 orang telah tertular, kata WHO di akun Twitter resminya.

Menurut data WHO, kasus dugaan yang paling banyak dilaporkan dari Ibu Kota Yaman, Sanaa, dan Provinsi Hajjah serta Hodeidah di bagian barat-laut negeri tersebut.

Pada 14 Agustus, WHO mengumumkan jumlah korban jiwa akibat kasus dugaan kolera di Yaman mencapai setengah juta, yang paling banyak yang dicatat sejak Perang Dunia II.

Pada Senin (3/9/2017), Dana Anak PBB (UNICEF) mengatakan penyebaran diare dan kolera di negara Arab itu telah secara efektif dikekang, tapi UNICEF memperingatkan mengenai korban jiwa lain akibat penularan penyakit tersebut selama perang berkecamuk.

Lebih dari separuh kasus dugaan adalah anak kecil, kata UNICEF, sebagaimana diberitakan Xinhua.

UNICEF menyatakan melambatnya penyebaran wabah tersebut terjadi karena "perjuangan bersejarah setiap hari" oleh pekerja kesehatan lokal dengan dukungan internasional.

Lebih dari 40.000 relawan setempat mendatangi rumah-demi-rumah dalam upaya meningkatkan kesadaran mengenai kolera di seluruh Yaman. Sejauh ini lebih dari 2,7 juta keluarga, atau hampir 80 rumah tanggal telah dijangkau, kata UNICEF.

Perang di Yaman, yang telah berlangsung selama lebih dari 2,5 tahun, telah menghancurkan sebagian besar sistem kebersihan dan pengairan di negeri itu, dan lebih separuh instalasi kesehatan di Yaman tak beroperasi, dan sebanyak 15 juta orang tak memperoleh akses air yang aman serta perawatan kesehatan dasar.

Perang juga telah mendorong negeri itu ke ambang kelaparan, sebanyak 385.000 anak menderita kurang gizi akut, sehingga mereka menghadapai peningkatan ancaman kolera dan diare berair akut, kata lembaga PBB tersebut.

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x