Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 September 2017 | 21:35 WIB

Kerugian Akibat Badai Harvey Capai Rp2.400 Triliun

Oleh : - | Senin, 4 September 2017 | 09:27 WIB
Kerugian Akibat Badai Harvey Capai Rp2.400 Triliun
(Getty Images)
facebook twitter

INILAHCOM, Austin - Gubernur Texas Greg Abbott memprediksi bahwa kerugian akibat Badai Harvey bisa mencapai US$150 miliar hingga US$180 miliar atau sekitar Rp2.000 triliun sampai Rp2.400 triliun.

Angka tersebut melebihi kerugian bencana akibat Badai Katrina dan Badai Sandy yang sekaligus menimbulkan pertanyaan bagaimana negara membayar kerugian bencana itu.

Badai Harvey yang pertama kali mencapai pantai 25 Agustus lalu ketika badai paling kuat dalam 50 tahun terakhir itu menerjang Texas dan menewaskan sekitar 47 orang.

Harvey juga memaksa 1 juta orang mengungsi ke tempat yang lebih aman dan merusakkan sekitar 200.000 rumah setelah menghantam apa pun dalam sepanjang 480 km perjalanan badai maut ini.

Abbott yang meminta bantuan pemerintah pusat menyatakan, kerugian akibat Badai Harvey melebihi dampak Badai Katrina yang meluluhlantakkan New Orleans dan daerah sekitarnya pada 2005, dan Badai Sandy yang menyapu Kota New York dan AS timur laut pada 2012.

"Katrina menyebabkan kerugian yang saya ingat jumlahnya sekitar US$120 miliar, tetapi jika Anda melihat jumlah rumah dan usaha yang terkena Badai Harvey saya kira akan melebihi US$120 miliar, mungkin juga US$150 miliar sampai US$180 miliar," kata Abbott kepada Fox News.

"Badai ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Badai Sandy," sambung dia.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah meminta Kongres untuk menyetujui dana awal sebesar US$7,85 miliar untuk upaya pemulihan yang disebut Abbott sebagai 'down payment' atau 'uang muka'.

Bahkan dana sebesar itu bisa tertunda kecuali Kongres cepat-cepat menaikkan batas utang pemerintah pusat, kata Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.

"Tanpa menaikkan pagu utang. saya tidak nyaman bahwa kita akan mendapatkan uang untuk rehabilitasi Texas bulan ini," kata Mnuchin kepada Fox News seperti dikutip Reuters.

 
x