Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 00:49 WIB

Uskup Lindungi 2.000 Warga Muslim di Afrika Tengah

Oleh : - | Sabtu, 2 September 2017 | 03:00 WIB
Uskup Lindungi 2.000 Warga Muslim di Afrika Tengah
Suasana di kompleks seminari di Bangassou yang dipakai untuk menampung pengungsi Muslim di Republik Afrika Tengah - (AFP/ BBC)
facebook twitter

INILAHCOM, Bangassou - Seorang uskup Katolik di Republik Afrika Tengah menyediakan tempat penampungan bagi sekitar 2.000 warga Muslim yang meninggalkan rumah mereka karena khawatir diserang oleh milisi Kristen.

Juan Jose Aguirre Munoz, demikian nama uskup tersebut, mengatakan demi alasan keamanan, untuk sementara warga Muslim yang ia tampung diminta tidak meninggalkan kompleks seminari di Kota Bangassou, di Republik Afrika Tengah bagian timur.

Kepada BBC, Uskup Munoz mengatakan para pengungsi Muslim 'bisa dibunuh' jika bertemu dengan milisi anti-Balaka.

"Tak jauh dari sini, ada milisi anti-Balaka yang melarang para pengungsi (Muslim) mencari makan, air, atau kayu bakar... jika pengungsi ini meninggalkan seminari (dan bertemu milisi), mereka bisa mati," kata Uskup Munoz.

Gereja dan sejumlah organisasi sosial membantu menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi para pengungsi Muslim.

Dokter yang bekerja untuk organisasi Dokter Lintas Batas (MSF), Ernest Lualuali Ibongu, mengatakan bahwa ada orang-orang di seminari yang memerlukan bantuan medis tapi mereka tak bisa meninggalkan tempat tersebut karena alasan keamanan.

Uskup Munoz mengatakan pihaknya memerlukan dukungan untuk menangani para pengungsi karena personel dan bantuan bagi mereka makin menipis. Aliran pasok bantuan terhenti karena milisi mencegah masuknya bantuan tersebut.

"Milisi anti-Balaka bersenjata dan sangat kejam. Mereka bisa membunuh anak-anak. Sangat sulit berunding dengan mereka," kata Uskup Munoz.

Ia menambahkan baik milisi anti-Balaka maupun Seleka menyerang gereja, namun pihaknya akan berbuat semaksimal mungkin untuk melindungi warga sipil.

"Bagi kami, tidak ada yang namanya orang Islam atau orang Kristen. Mereka semua adalah manusia. Kami harus melindungi siapa pun yang hidupanya terancam," tegas Uskup Munoz.

'Pembunuhan besar-besaran'

Pekan lalu, kepala bantuan kemanusiaan PBB, Stephen O'Brien, memperingatkan kemungkinan terjadinya pembunuhan besar-besaran atau genosida di Republik Afrika Tengah.

O'Brien mengatakan, kekerasan meningkat dan situasi di lapangan semakin mengenaskan.

"Kekerasan makin buruk yang berpotensi mengulang terjadinya krisis yang mendera negara ini empat tahun lalu," kata O'Brien.

"Sudah ada tanda-tanda terjadi genosida, kita harus ambil langkah sekarang," imbuhnya.

O'Brien mendesak PBB menambah jumlah polisi dan tentara di Republik Afrika Tengah untuk menjaga keamanan dan stabilitas.

Di negara ini, PBB memiliki 12.500 tentara dan polisi untuk melindungi warga sipil dan mendukung pemerintah Presiden Faustin-Archange Touadera yang terpilih tahun lalu.

Menurut O'Brien jumlah pengungsi mencapai sekitar 600.000 orang.

Pada 2013 terjadi kekerasan sektarian ketika pemberontak Muslim Seleka mengambil alih kekuasaan dan dituduh membunuh warga non-Muslim.

Tak lama kemudian dibentuk kelompok anti-Balaka tapi kelompok ini juga menghadapi tuduhan membunuh warga Muslim.

Republik Afrika Tengah adalah bekas jajahan Prancis yang memiliki penduduk 4,5 juta jiwa dan dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia.

Empat tahun lalu pecah pertikaian antara milisi Islam dan Kristen menyusul penggulingan Presiden Francois Bozize yang beragama Kristen oleh koalisi pemberontak Seleka.

Komentar

 
x