Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 19 November 2017 | 00:49 WIB

Kekerasan di Rakhine Memburuk

Ribuan Muslim Rohingya Kembali Mengungsi

Oleh : - | Senin, 28 Agustus 2017 | 12:12 WIB
Ribuan Muslim Rohingya Kembali Mengungsi
Pengungsi Rohingya saat ditolak memasuki perbatasan Bangladesh - (prothom-alo.com)
facebook twitter

INILAHCOM, Sittwe - Ribuan orang meninggalkan rumahnya di negara bagian Rakhine, Myanmar, karena memburuknya kekerasan dalam beberapa hari belakangan ini.

Kekerasan marak dan berlanjut hingga Minggu (27/8/2017) setelah para pejuang Rohingya menyerang sekitar 30 kantor polisi pada Jumat (25/8/2017).

Penduduk sipil Muslim Rohingnya mengungsi dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh, namun penjaga perbatasan mengusir sebagian dari mereka kembali ke wilayah Myanmar.

Di Vatikan, Paus Fransiskus, menyerukan agar kekerasan atas warga Rohingya dihentikan.

"Berita buruk tiba tentang penganiayaan agama minoritas, saudara-saudara kita Rohingya," tulis Paus dalam pernyataannya.

"Saya ingin mengungkapkan kedekatan penuh dengan mereka. Mari kita minta Tuhan menyelamatkan mereka dan memberi pria dan wanita kebaikan untuk membantu mereka, agar mereka mendapat hak-hak penuh," lanjut pemimpin umat Katolik sedunia itu.

Umat Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar --yang mayoritas penduduknya beragama Budha-- dan sering menjadi korban kekerasan aparat keamanan maupun kelompok militan Budha.

Sebelum kekerasan terbaru ini, puluhan ribu warga Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh karena mengaku menjadi korban penganiayaan.

Rakhine ---yang merupakan negara bagian termiskin di Myanmar-- menjadi tempat tinggal dari lebih dari satu juta orang Rohingya yang beragama Islam.

Kepolisian Bangladesh mengatakan mengusir 70 orang kembali ke Myanmar pada Sabtu (26/8/2017) setelah berupaya memasuki Bangladesh lewat perbatasan Ghumdhum.

Namun, diperkirakan sekitar 3.000 warga Rohingya berhasil melintasi perbatasan dan masuk ke ke kamp pengungsi maupun kampung-kampung di kawasan perbatasan Bangladesh.

Seorang warga Rakhine, Mohammad Zafar, 70 tahun, yang berada di kamp pengungsi di Balukhali menjelaskan kepada kantor berita AFP bahwa dua anaknya ditembak mati di lapangan terbuka.

"Mereka menembak begitu dekat sehingga saya tak bisa mendengar apapun sekarang," katanya.

Warga lain yang mengungsi ke sebuah kampung di dekat Ghumdhum mengatakan akan dibunuh jika kembali ke kampungnya.

"Tolong selamatkan kami. Kami ingin tinggal di sini atau kami dibunuh," katanya kepada kantor berita Reuters.

Sementara itu, sekitar 4.000 penduduk Rakhine yang bukan beragama Islam sudah dievakuasi oleh tentara Myanmar agar tidak terperangkap dalam kekerasan.

Kekerasan terbaru ini marak setelah Oktober 2016, ketika sembilan polisi tewas dalam serangan militan Rohingya di pos perbatasan yang memicu operasi militar besar-besaran dan menyebabkan ribuan umat Muslim Rohingya mengungsi.

Pemerintah Myanmar menegaskan operasi dilancarkan untuk memburu para militan Rohingya.

Bagaimanapun PBB sedang menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat keamanan Myanmar, demikian laporan BBC.

Komentar

 
x