Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 28 Juli 2017 | 01:44 WIB

Kim Jong-un Pimpin Uji Sistem Senjata Baru Korut

Oleh : - | Minggu, 28 Mei 2017 | 20:22 WIB
Kim Jong-un Pimpin Uji Sistem Senjata Baru Korut
(KCNA)
facebook twitter

INILAHCOM, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memimpin pengujian sistem senjata antipesawat terbang dan memerintahkan produksi masal sistem senjata baru itu serta pengerahannya di seluruh negeri, menurut warta kantor berita KCNA, pada Minggu (28/5/2017).

Meski demikian, KCNA tidak melaporkan sifat tepat dari senjata itu mau pun waktu pengujiannya. Kantor berita milik pemerintah Korut itu hanya menyebutkan bahwa pengujian dilakukan oleh Akademi Ilmu Pertahanan Nasional, yang diyakini mengembangkan senjata nuklir dan rudal.

"Kim Jong-un menyaksikan pengujian satu tipe baru sistem senjata anti-pesawat terbang yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pertahanan Nasional," kata KCNA dalam laporannya.

"Sistem senjata ini, yang kemampuan operasinya sudah secara menyeluruh diverifikasi, harus diproduksi massal untuk dikerahkan di seluruh negeri dengan demikian sepenuhnya akan membuat basi mimpi musuh untuk menguasai udara serta bualannya mengenai supremasi udara dan kekuatan senjata," lanjut laporan itu.

KCNA menyebut bahwa Kim didampingi oleh pembantu militernya dan pejabat tinggi yang meliputi Ri Pyong-chol, bekas jendeal Angkatan Udara; Kim Jong Sik, ilmuwan roket veteran; dan Jang Chang-ha, kepala Akademi Ilmu Pertahanan Nasional, pusat pengembangan dan pengadaan senjata.

Korut pada Senin (22/5/2017) menyatakan sukses menguji apa yang disebut rudal balistik berjangkauan menengah yang memenuhi semua persyaratan teknis dan sudah bisa diproduksi massal.

Pada Selasa (23/5/2017), Kepala Badan Intelijen Pertahanan AS menyatakan jika dibiarkan tanpa pengawasan, Korut berada di jalur mencapai kemampuan rudal nuklir yang bisa menghantam AS.

Dalam sidang Senat, Direktur Badan Intelijen Pertahanan Vincent Stewart menolak menyampaikan perkiraan waktunya, namun para ahli Barat percaya Korut masih butuh waktu sekurang-kurangnya hingga 2020 untuk mengembangkan senjata semacam itu.

 
x