Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 September 2017 | 03:04 WIB

Darmin Sindir (Lagi) Amburadulnya Data Pangan

Oleh : M fadil djailani | Sabtu, 20 Mei 2017 | 00:29 WIB
Darmin Sindir (Lagi) Amburadulnya Data Pangan
Menko Perekonomian, Darmin Nasution - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sejak dulu, mengatur bahan pangan, bukan perkara mudah. Apalagi menjelang Bulan Puasa dan Lebaran. Yang acapkali terjadi, pasokan tak cukup dan harga melambung tinggi.

Menko Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, pembenahan terhadap tata kelola serta distribusi bahan pangan, perlu terus dibenahi. Tingkat ketersediaan bahan pangan, masih menjadi kendala. Akibatnya, tidak terjadi kesimbangan antara pasokan dengan permintaan. Otomatis, harga yang harus dibayar konsumen meningkat.

Masalah lainnya, kata Darmin, panjangnya mata rantai distribusi. Bahan pangan sejak dari petani hingga ke tangan konsumen, harus melalui beberapa tingkat. Hal ini menjadi salah satu pemicu kenaikan harga.

Dirinya juga menyebut belum bagusnya kualitas produk pangan. "Petani kita itu menaruh hasil panennya hingga tiga tumpuk di pick-up. Sudah begitu, ada orang yang tidur di atasnya. Bagaimana bahan pangannya enggak bonyok," kata Darmin saat menjadi keynote speech dalam sebuah seminar di Kantornya, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Selain belum mumpuninya soal distribusi logistik, mantan Dirjen Pajak era SBY menunjuk masalah serius lainnya. Apa itu? Ya, apalagi kalau bukan konsistensi data pangan.

Kali ini, Darmin benar. Harus diakui, data antar lembaga dan kementerian yang terkait pangan, seringkali berbeda. Kondisi ini menjadi masalah serius yang perlu dibenahi. Agar kebijakan pangan bisa berkesinambungan. "Kita lama berdebat soal angka produksi padi. Antar satu kementerian dengan kementerian, ada perbedaan angka yang cukup besar. Memang ada satu yang miss, waste dan losses. Kalau kita sudah menyelesaikan wasted dan losses, kelihatannya bagus. Dan, waste dan loses itu hanya bisa diatasi dengan standar logistik yang baik," kata Darmin.

Sekedar informasi saja, tingkat kerusakan komoditas pertanian berada di kisaran 30%-40%. Fenomena ini, tentu saja berpengaruh terhadap stok. Jadi, tak salah bila Darmin rajin mengingatkan soal ini.

Darmin berharap ada peningkatan investasi di sektor logistik, khususnya gudang berpendingin alias cold storage. "Salah satu kementerian dan lembaga teknis yang sudah melakukan adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mengembangkan Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN)," kata Darmin. [ipe]

 
Embed Widget

x