Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 Juli 2017 | 07:38 WIB

Trump-Erdogan Bertemu, Era Baru Hubungan AS-Turki

Oleh : - | Kamis, 18 Mei 2017 | 10:01 WIB
Trump-Erdogan Bertemu, Era Baru Hubungan AS-Turki
(nydailynews.com)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington - Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan pertemuan pertama mereka di Washington sebagai era baru dari hubungan kedua negara.

Meski demikian, kedua pemimpin itu tidak menjawab perbedaan-perbedaan mereka tentang bagaimana menghadapi kelompok militan ISIS di bagian utara Suriah.

Sebelumnya, Turki menentang keras rencana AS untuk mempersenjatai pasukan Kurdi di Suriah sebagai bagian dari upaya memerangi ISIS.

Baca juga: AS dan Turki Perkuat Hubungan di Tengah Ketegangan

Pertikaian sempat terjadi antara sekelompok pendukung Erdogan dan puluhan orang yang memprotesnya di luar kediaman duta besar Turki di Washington DC pada Selasa (16/5/2017). Sejumlah pengawal pribadi Erdogan juga terlibat dalam perkelahian itu.

Pejabat berwenang mengatakan sembilan orang luka-luka, termasuk satu orang yang menderita luka serius. Kepolisian AS mengatakan dua orang telah ditangkap dalam insiden tersebut.

Sementara di Gedung Putih, Trump mengamati kekhawatiran Turki soal terorisme.

"Kami mendukung Turki dalam perlawanan pertamanya terhadap teror dan kelompok-kelompok teror seperti ISIS dan PKK, dan memastikan bahwa kelompok-kelompok teror itu tidak memiliki tempat persembunyian yang aman," ujar Trump, seperti dilansir VOA News.

Tetapi Presiden AS itu tidak mengisyaratkan bahwa ia akan menarik dukungan dari pasukan Kurdi di Suriah sebagaimana seruan Erdogan.

"Kita seharusnya tidak pernah mengikuti kelompok-kelompok ini untuk memanipulir struktur keagamaan dan etnis di kawasan itu, dengan menggunakan perlawanan terhadap terorisme sebagai alasan," kata Erdogan.

Pemimpin Turki ini juga gagal membujuk AS untuk mengekstradisi ulama Turki, Fethullah Gulen, yang dituduhnya telah memicu kudeta yang gagal terhadap pemerintahnya pada Juli tahun lalu.

Beberapa analis mengatakan bahwa Erdogan tidak menerima konsesi apapun dalam dua isu penting ini, tetapi tampaknya menggunakannya untuk mencapai perjanjian-perjanjian lain yang lebih bermanfaat.

Sementara itu, pakar Timur Tengah Howard Eissenstat, mengatakan pertemuan Erdogan dan Trump menambah rasa gengsinya di tanah air. AS telah mengutuk kudeta yang gagal terhadap pemerintah Erdogan tahun lalu, tetapi juga mengecam penggerebekan para tersangka pemimpin kudeta, wartawan, dan para pembangkang lainnya.

Sebagai salah seorang anggota NATO, Turki merupakan bagian dari sekutu militer yang kuat dimana keamanannya bergantung pada jaringan intelijen di seluruh dunia. Turki adalah mitra kuat AS di kawasan dan memiliki akses pada pangkalan-pangkalan militer penting yang strategis.

 
x