Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 September 2017 | 03:05 WIB

Perundingan Damai Suriah Kembali Dimulai di Jenewa

Oleh : - | Selasa, 16 Mei 2017 | 22:00 WIB
Perundingan Damai Suriah Kembali Dimulai di Jenewa
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jenewa - Babak baru perundingan damai Suriah kembali dibuka pada Selasa (16/5/2017), di Jenewa, Swiss, sebagai upaya terbaru PBB untuk menyelesaikan konflik enam tahun yang telah menewaskan lebih dari 320 ribu orang itu.

Lima putaran perundingan sebelumnya yang didukung PBB gagal memberikan hasil nyata dan harapan untuk sebuah terobosan besar masih terbilang gelap.

Presiden Suriah Bashar al-Assad memperkuat posisinya, dan pemberontak terguncang akibat kemunduran besar di ibu kota Damaskus.

Baru-baru ini al-Assad juga menyebut proses Jenewa 'tidak sah' seraya mengatakan kepada saluran ONT Belarus bahwa proses itu menjadi 'hanya sebuah pertemuan untuk media'.

Pemimpin Suriah itu memberikan lebih banyak pujian terhadap jalur diplomatik terpisah di ibu kota Kazakhstan, Astana, yang dipimpin oleh sekutunya Rusia dan Iran bersama dengan pendukung oposisi Turki.

Jalur Astana menghasilkan kesepakatan 4 Mei 2017 untuk menciptakan empat zona 'de-eskalasi' di beberapa medan perang paling berdarah di Suriah.

Utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menepis tuduhan bahwa perundingan Astana membayangi jalur Jenewa.

"Kami bekerja tandem," katanya kepada para wartawan, Senin (15/5/2017).

Perundingan PBB fokus pada empat 'keranjang' terpisah: pemerintahan, konstitusi baru, pemilihan umu, dan perang melawan terorisme di negara yang dicabik perang itu.

Dengan para perunding al-Assad dan oposisi utama Komite Perundingan Tinggi (High Negotiations Committee/HNC) diperkirakan berlangsung di Swiss sampai akhir pekan, de Mistura mengatakan dia ingin menggali beberapa isu dengan harapan itu bisa membangkitkan proposal solid.

Namun, isu mengenai nasib al-Assad masih menjadi penghalang yang mengecilkan hati.

HNC berkeras pelengseran presiden harus menjadi bagian transisi politik apa pun, tuntutan yang tidak bisa diterima oleh rezim Suriah pimpinan al-Assad, demikian AFP mewartakan

 
x