Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 Juli 2017 | 07:38 WIB

Trump Dituding Bocorkan Rahasia Negara ke Rusia

Oleh : - | Selasa, 16 Mei 2017 | 13:28 WIB
Trump Dituding Bocorkan Rahasia Negara ke Rusia
Presiden AS Donald Trump tengah menerima Menlu Rusia Sergei Lavrov (kiri) dan Dubes Rusia untuk AS Sergey Kislyak (kanan) di Gedung Putih, pekan lalu. - (ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington - Presiden AS Donald Trump dituding telah mengungkap informasi sangat rahasia tentang kelompok ISIS kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Duta Besar Rusia untuk AS Sergey Kislyak.

Saat berkunjung ke Ruang Oval di Gedung Putih, pekan lalu, Lavrov diperlihatkan dokumen rahasia oleh Trump, sebagaimana dilaporkan Washington Post yang mengutip keterangan beberapa pejabat dan mantan pejabat AS.

Padahal, menurut mereka, informasi itu berasal dari mitra AS yang belum memberi izin kepada AS untuk membaginya kepada Rusia. Mereka menggolongkan tindakan Trump itu sebagai sensitif mengingat materi intelijen yang dibagi kepada Rusia tersebut belum disampaikan kepada sekutu-sekutu AS dan bahkan pemerintahan AS sendiri.

Para pejabat dan mantan pejabat AS itu menyebut Trump telah membahayakan kerja sama dengan sebuah negara sekutu yang memiliki akses ke lingkaran terdalam ISIS di Suriah.

"Trump telah mengungkapkan informasi secara lebih banyak kepada duta besar Rusia itu ketimbang yang kami bagikan kepada sekutu-sekutu kita," kata seorang pejabat AS yang mengetahui benar informasi intelijen yang dibocorkan Trump tersebut.

Akan tetapi, jajaran Trump membantah laporan tersebut.

"Cerita itu tidak benar," kata Dina Powell, deputi penasihat keamanan nasional di bidang strategi, yang menghadiri pertemuan tersebut.

"Presiden hanya mendiskusikan ancaman-ancaman umum yang dihadapi kedua negara," tambahnya.

Penasihat keamanan nasional Trump, Jenderal HR McMaster, juga menegaskan bahwa laporan itu salah.

"Presiden Trump dan Menlu Rusia mengkaji ancaman umum dari organisasi-organisasi teroris, termasuk ancaman terhadap penerbangan," katanya.

"Tak ada sumber intelijen atau metode yang didiskusikan, dan tidak ada operasi militer yang dibeberkan selain yang sudah diketahui publik," imbuh Jenderal McMaster.

Tudingan bahwa Trump terkait dengan pemerintah Moskow beredar sejak kampanye pilpres AS tahun lalu. Namun, Trump menyebutnya sebagai berita palsu alias hoax.

Trump justru menuding rivalnya dalam pilpres tahun lalu, Hillary Clinton, ceroboh dalam menangani dokumen-dokumen rahasia negara.

Dalam percakapan dengan Menlu Rusia dan Duta Besar Rusia di Ruang Oval, Gedung Putih, Trump mengungkap hal-hal yang bisa berujung pada pengungkapan sumber informasi, kata sejumlah pejabat AS kepada Washington Post dan the New York Times.

Diskusi itu membahas rencana ISIS dan pemaparan intelijen yang muncul dari sekutu AS. Seperti dilaporkan kedua harian itu, informasi tersebut terlalu sensitif untuk dibagi ke Rusia, yang bukan sekutu AS.

Semua yang hadir dalam pertemuan tersebut, menurut Washington Post, belakangan menyadari kesalahan itu dan buru-buru 'menambal kerusakan' dengan menginformasikan dua badan intelijen AS, CIA, dan NSA.

Anggota Senat AS dari Partai Demokrat, Dick Durbin, menilai aksi Trump 'berbahaya' dan 'sembrono'.

Adapun Kepala Komite Hubungan Luar Negeri di Senat dari Partai Republik, Bob Corker, mengatakan laporan itu 'sangat, sangat meresahkan' jika terbukti benar.

Washington Post pun mengaku mendapatkan bocoran rincian plot detail dari informasi intelijen yang dibocorkan Trump, termasuk nama sebuah kota. [ikh]

 
x