Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 18:14 WIB

Pelajaran Bahasa Prancis Sudutkan Pengungsi Arab

Oleh : Didi Prambadi | Jumat, 12 Mei 2017 | 11:34 WIB
Pelajaran Bahasa Prancis Sudutkan Pengungsi Arab
(Foto: newsdeeply)
facebook twitter

INILAHCOM, Brussels - Sejumlah pengungsi Arab di Brussels kesal, karena pelajaran bahasa Prancis yang diajarkan cenderung memojokkan migran sebagai ekstrimis militan Muslim.

Kantor Associated Press mengabarkan Kamis (11/5/2017), di antara yang kesal adalah Raad Al Azzawi, seorang pengungsi Irak dan Catherine Lemaire, gurunya asal Belgia. Mereka mendapati sejumlah kata-kata bom dan penjara, selama belajar bahasa Prancis di Sekolah Erasme, di Anderlecht, pinggiran Brussels. Dalam beberapa kalimat, disebutkan "Ayah melempar bom sehingga dimasukkan ke penjara". Lalu, ada kalimat: "Saya makan roti di dalam penjara". Juga ada kalimat: "Dia menunjukkan saya sebuah bom dan penjara".

Sejumlah kalimat itu terdapat di buku pelajaran bahasa Prancis yang menganggap "Para pemohon suaka politik adalah orang-orang bodoh, atau teroris. Saya tidak bisa terima hal itu," kata Catherine Lemaire. Sampai-sampai Catherine tidak berani mengajarkannya kepada Raad Al-Azzawi, muridnya. "Hal itu sangat serius dan saya sampai malu menyadari Belgia ternyata memberikan materi pelajaran seperti itu," kata Catherine.

Buku itu kemudian dipotret dan dipasang di akun Facebooknya, untuk menyadarkan para murid lainnya bahwa pelajaran Bahasa Prancis bukan seperti itu. "Saya melihat banyak penderitaan dialami di Irak," kata Raad Al-Azzawi. "Tapi ini benar-benar tidak bisa diterima," lanjut Al-Azzawi yang tinggal di rumah Catherine selama empat bulan, sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri.

Bernard Delescluse, Direktur Sekolah Erasme, di Anderlecht menyatakan permintaan maafnya dan menyebutkan hal itu sebuah kecerobohan tim penyusun buku. "Kekeliruan itu tidak kami perhatikan selama tiga tahun silam. Dan kalimat yang mengusik perasaan kaum pengungsi itu telah dihapus," tutur Bernard Delescluse.

 
x