Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 Juli 2017 | 07:37 WIB

Bayi AS Kekurangan Gizi Karena Ortunya Ilegal

Oleh : Didi Prambadi | Rabu, 10 Mei 2017 | 12:33 WIB
Bayi AS Kekurangan Gizi Karena Ortunya Ilegal
(Foto: trust)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington DC - Para ibu imigran yang tak memiliki dokumen resmi, tidak berani mengambil jatah susu dan makanan gratis bagi bayinya yang disediakan Pemerintah AS.

The Guardian mengabarkan Selasa (9/5/2017) sejak Presiden Donald Trump menggalakkan pembersihan imigran gelap, jumlah ibu yang menjadi pelanggan Program Nutrisi Suplemen Khusus, menurun drastis. Diperkirakan sekitar 8 juta ibu yang biasanya berkunjung setiap pekan ke pusat kesehatan AS, kini tinggal beberapa ratus orang. "Malah kurang dari itu," tutur seorang petugas kesehatan Women, Infants and Children, WIC, organisasi yang menangani program bayi sehat di AS.

Penurunan itu, tak hanya terjadi di beberapa kota saja, tetapi sudah merambah ke seluruh negeri. "Kami sangat prihatin dengan kondisi itu," kata Elisabet Eppes, pejabat senior publik Asosiasi WIC Nasional. Padahal, menurutnya, setiap anak balita mendapat santunan US$45 dalam bentuk kupon setiap bulan, agar dapat membeli susu dan makanan suplemen gratis di toko-toko makanan dan warung setempat. Bila hal itu berlangsung, dikhawatirkan banyak bayi yang menderita kekurangan gizi, menderita kegemukan, dan menurunnya daya tubuh bayi.

"Kami mendengar keluhan dari para ibu yang tak bersedia lagi berkunjung ke pusat-pusat kesehatan, karena takut ditangkap," kata Douglas Greenaway, Presiden dan CEO Asosiasi WIC Nasional. "Bahkan banyak di antaranya yang minta agar nama mereka segera dicoret dari daftar kunjungan. Saya bayar ganti rugi deh," kata Douglas menirukan beberapa ibu imigran tanpa dokumen itu.

Keprihatinan yang sama juga dilontarkan Dr. Lanre Falusi. Presiden Akademi Pediatri Amerika ini prihatin pada para bayi yang berstatus warga AS, walau orang tuanya imigran ilegal. "Kami sedih, ada bayi yang lahir di sini dan menjadi warga AS tidak menikmati program kesehatan WIC karena orang tuanya ketakutan ditangkap," ujar Lanre Falusi.

 
x