Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 27 April 2017 | 06:34 WIB

Bandung Mampang Meumpeung dan Kurang Kreatif

Oleh : - | Kamis, 29 Desember 2016 | 11:56 WIB
Bandung Mampang Meumpeung dan Kurang Kreatif
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

SUDAH lama banyak kabar berbisik tentang pelayanan yg tidak berstandar di Kota Bandung yang tercinta ini. Dari mulai sahabat dekat, teman jauh, saudara, turis lokal, turis dari luar Indonesia dan bahkan orang bandung sendiri. Penyebabnya hanya satu, ulah mampang meumpeung.

Sedihnya adalah pelaku tersebut sepertinya bergerak secara masif (banyak orang berlaku demikian). Mulai dari hal sepele seperti parkir, porter, pulsa, teh atau air kemasan dan makanan-makanan kemasan yg sebenarnya harganya dimanapun relatif sama dan seragam. Perbedaan yang wajar tentu masih bisa dimaklumi tetapi perbedaan yang signifikan tentu akan membuat dahi berkenyit, seakan-akan ditipu mentah-mentah. Begitu banyak keluhan yang saya sering dengar.

Di sisi lain beragam ide kreatif yang muncul dalam upaya menarik orang datang ke Bandung cukup giat dilakukan banyak pihak, hanya saja dalam hal pelayanan orang bandung kurang kreatif. Misalkan saja kreatifnya membuat tempat photoshoot yang kreatif tidak dibarengi fasilitas parkir atau wc atau sistem yang baik, sehingga yang terjadi malah banyak calo, wc yg bau pesing dan kemacetan akibat parkir yang tidak nyaman, istilah kerennya, kelihatannya gimana, padahal perjuangannya luar biasa. Untuk mendapatkan dan menikmati lokasi wisata yang secuil dan cukup 5 menit diputari, harus menghabiskan 2-4 jam mencapainya.

Saya rasa tidak dalam waktu lama lagi Bandung tidak akan lagi menarik dikunjungi. Apalagi ditambah memang fasilitas yang ada sangat jauh dari standar. Komitmen pemerintahan hanya sekadar kecap belaka, pelaku industri kreatif dan pariwisatanya kurang punya kemampuan besar dan mimpi besar sehinggga spot-spot menarik tidak mampu memberikan kenyamanan, dan terutama mental dan perlakuan orang bandung sendiri tidak profesional dan jauh dari sikap ramah yang hangat. Sikap ramah kita hanya untuk mengeruk dan kadang mampang meumpeung.

Sebagai orang bandung saya sedih. Karena itu juga akan berarti hilangnya potensi ekonomi. Kita perlu berbesar hati pada kemajuan pengembangan wisata di beberapa propinsi lain di Indonesia dan tentu kita harus mengakui dan memperbaiki diri jika memang jelas masih tertinggal.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi pelecut kita untuk saling mengingatkan dan memperbaiki diri. Agar Kawah Putih, Tangkuban Parahu, Maribaya, kuliner Bandung, keindahan Bandung dan daya kreatif masyarakatnya serta lainnya menjadi hal yang dapat dinikmati oleh siapapun dan menyebar membawa kabar tentang indahnya bandung dan warganya.

Widdi Aswindi, Urang Bandung

Tag

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x